Ketika Pengorbanan dan Usahamu Tak Begitu Dianggap dan Dilihat


 “Kan kamu ga kerja, yang kerja aku, yang mikir semuanya kan aku, ya sekolah, ya bayar listrik, ya beli ini itu” kata seorang suami kepada istrinya. Pernah mendengar pernyataan seperti itu? 

 

Mendengar kata kata itu di sebuah sinetron keluarga yang tak sengaja saya tonton saat memindah channel tv,  tak perlu sebut judulnya karena tak penting, tapi kata kata itu cukup men-trigger ibu ibu seperti saya yang notabene ibu rumah tangga. Membahas kalimat itu menjadi hal yang krusial terutama bagi ibu rumah tangga yang hidupnya full untuk mengurus anak dan keluarga yang konon katanya “nganggur” di rumah dan tak bekerja. Bekerja disini tentu diartikan sebagai kegiatan yang menghasilkan uang. Tapi coba ditelaah Kembali, jika pekerjaan ibu rumah tangga dikonversi ke biaya pembantu rumah tangga, guru les, guru ngaji, jasa antar jemput anak sekolah, kira-kira berapa juta yang harus dikeluarkan kepala rumah tangga dalam sebulan? Tentu bisa lebih dari 5 juta rupiah. Tapi kenapa ibu rumah tangga kemudian dianggap tidak produktif, tidak bekerja, tidak menghasilkan uang,  bisanya cuma minta aja dan masih dilabeli dengan “dasar boros ga bisa atur uang’" Ketika uang bulanan habis sebelum waktunya? 

 

Rasanya pengorbanan kita, perjuangan kita sebagai ibu rumah tangga yang berusaha mendidik anak anak dirumah, mengantar jemput anak anak, mengajari baca tulis, menuntunnya mengaji, membiasakan sholat, menyenangkan anak anak , memasakkan makanan kesukaan anak anak, melayani suami,mengorbanakan mimpi dan cita cita diri sendiri, menjadi seolah sia sia dan tak berguna. “Ngapain aku begitu berkorban untuk keluarga kalau usahaku tak dihargai, tak dilihat, tak dianggap oleh pemimpin keluarga?” 

 


Jangan niatkan untuk manusia


Rasanya pasti menyakitkan dan melelahkan kalau semua usaha dan pengorbanan kita ditujukan untuk manusia (dalam hal ini anak anak dan suami) toh belum tentu anak anak dan suami kita benar benar akan dengan tulus membalas budi baik kita di kemudian hari. Bukankah menjadi sebuah penderitaan baru ketika semua usaha kita curahkan hanya untuk “manusia” yang konon katanya dikenal sebagai makhluk yang tak tau balas budi itu? 

 

Jadi mulai sekarang bund tidak perlu berharap terlalu banyak pada suami atau anak anak, atau siapapun itu yang masih menyandang gelar “manusia”. Biarkan saja jika mereka menyakiti hatimu atau membuatmu merasa lelah bahkan tak berharga. Serahkan pada Dzat yang memegang dunia, toh bukan mereka yang memegang hidup dan matimu? Lalu untuk apa terlalu fokus dengan manusia? Sekarang saatnya fokus pada diri sendiri, perbaiki hubungan kita dengan Tuhan, perbaiki ibadah kita, akhlak kita, lakukan secara pelan pelan dan konsisten, tak perlu tergesa dan tak perlu peduli dengan kata kata negatif dari orang di sekitar kita. Kata-kata melemahkan seperti : "tak guna itu sholat dan puasamu kalau akhlakmu dengan suami masih begitu" haruslah dianggap angin lalu karena siapa dia? kok berani berkata demikian? suami tentu bukan Tuhan, yang tau ibadah kita diterima atau tidak hanyalah Tuhan. Jadi stop mendengarkan kata kata negatif dari sekitar dan terus mendekat pada Tuhan, niatkan semua usaha dan pengorbanan untuk Tuhan (bukan untuk manusia). Dan yang tak kalah penting adalah fokus juga untuk membahagiakan diri kita sendiri dan meng-upgrade diri, karena ibu yang bahagia akan mampu menebar aura suka cita di rumah. Sebaliknya ibu yang tertekan dan merasa tak berdaya hanya akan membawa petaka di keluarga. 


Suami bukan sumber rezeki, dia hanyalah perpanjangan tangan Tuhan


Adalah sebuah kesadaran yang harus menghujam tajam di benak dan hati kita, bahwa segala rezeki itu bersumber dari-Nya. Tentu jalannya bisa datang dari bermacam macam cara, salah satunya dari suami (bagi ibu rumah tangga), dari pekerjaan (bagi wanita karier) atau dari arah yang tidak disangka-sangka. Jangan sampai terbersit pemikiran bahwa yang menghidupi kita, yang memberi makan kita adalah suami. Pemikiran seperti itu bisa menjerumuskan kita ke dalam syirik kecil. Syirik adalah menyekutukan Tuhan dan ini adalah perbuatan yang paling dibenci oleh-Nya. 


Di titik ini kita sebagai ibu rumah tangga harus sadar bahwa yang memberi penghidupan kita adalah Tuhan, jalannya lewat suami. Hal ini perlu disadari juga oleh para imam keluarga agar tidak takabur, tidak merasa sombong, tidak merasa bahwa dirinyalah yang menghidupi keluarga dan tempat bergantung keluarga. Karena sejatinya tempat bergantung hanyalah Tuhan Yang Maha Esa; Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Begitu juga bila istri bekerja dan gajinya lebih besar dari suami, tidak boleh merasa jumawa, merasa lebih hebat dari suami kemudian timbul sikap yang menyakiti harkat dan perasaan suami. Kedua belah pihak baik istri maupun suami harus menyadari betul bahwa hakikatnya semua rezeki adalah bersumber dari Tuhan Yang Esa, manusia hanyalah jalan atau wasilah. Kita semua adalah perpanjangan tangan Tuhan, setiap kita adalah khalifah yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Jika kita menyadari peran kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan maka kita tidak akan semena mena terhadap pasangan baik dengan kata kata maupun perbuatan, karena sejatinya kita tau kita hanyalah wayang; lakon, sedangkan sutradaranya adalah Tuhan. Sutradara ini tak suka jika wayangnya berlaku dholim pada sesama.

 


Ibu adalah perpanjangan tangan Tuhan yang spesial



Terdapat 17 dialog (berdasar tema) antara orang tua dengan anak yang dibahas dalam Al-Quran yang tersebar dalam 9 surat. Terdapat 14 kali dialog antara ayah dan anaknya, 2 kali dialog antara ibu dan anaknya, serta 1 kali dialog antara kedua orang tua (tanpa nama) dengan anaknya. Di sini menyiratkan bahwa ayah harus lebih banyak berdialog dengan anak-anaknya, tapi bukan berarti ibu diam saja. Justru wanita yang katanya harus menghabiskan jatah kata sebanyak 20.000 kata per hari agar tidak stress dan burnout, malah hanya diberi ruang 2 kali saja berdialog dengan anaknya dalam Alquran. 


Ini berarti kita sebagai ibu harus lebih memberi teladan, contoh nyata, aplikasi langsung, tindakan yang aktual di depan anak anak. Terbukti ketika saya menyuruh berulang kali dengan kata kata agar anak anak segera sholat dan ngaji, mereka hanya diam saja. Tapi begitu saya sholat dan mengaji setiap hari di depan mereka, akhirnya mereka mencontohnya. Begitu pula saat saya sudah tidak bisa menasehati dengan untaian kata yang panjang lebar, ayahnya cukup tampil dengan dua kata singkat " Ayo sholat" langsung anak anak lari bergegas wudhu. 


Dalam hadist nabipun ibu disebut 3 kali dibanding ayah. Hal ini karena kita istimewa, anak anak begitu lengket dengan kita. Ketika sedih atau bahagia orang pertama yang mereka beritahu adalah kita. Bagi anak anak, ibu adalah rumah, ibu adalah poros dunia mereka, sumber cinta dan kekuatan. Ibu adalah madrasah awal, sekolah pertama bagi anak anak. Kita adalah perpanjangan tangan Tuhan yang diharapkan mampu mengajar welas asih, memberi teladan, memberi rasa aman, menjadi tempat pulang paling nyaman bagi anak anak. Rasanya peran ini sangatlah besar dan berat. Terkadang sayapun tertatih tatih, nibo tangi (jatuh bangun dalam bahasa Jawa) menjalani peran ini. Membersamai 3 anak, tanpa asisten rumah tangga, dan kondisi LDM dengan suami cukup membuat saya menangis setiap hari. Kadang menjadi ibu peri, tak jarang berubah jadi mama monster ketika lelah dan kesabaran menguap ditelan keributan anak anak di rumah. 


Karena kesitimewaan peran ibu inilah, surga ada ditelapak kaki kita. Tentu tak sembarang kaki, hanya kaki ibu yang bersih hati dan perilakunya, ibu yang mampu jadi teladan bagi anak anaknya, ibu yang mampu mendidik anak anaknya dengan sebaik baiknya, seikhlas-ikhlasnya, seindah-indahnya. Meskipun tak akan ada kata sempurna bagi kita, karena di dunia ini memang tidak ada orang tua yang sempurna, tapi mengusahakan yang terbaik sesuai kemampuan kita adalah hal yang layak kita perjuangkan seumur hidup. Semua ibu, semua kita berproses sepanjang hidup untuk menjadi ibu yang terbaik versi diri kita masing-masing. Kita hanya berikhtiar, dan hanya Tuhanlah yang berhak menilai usaha kita, bukan manusia yang seringnya menghakimi manusia lain. Mengusahakannya bukanlah jalan yang mudah, karena banyak aral rintang di depan kita. Hanya dengan pertolongan dan bimbingan-Nya saja kita mampu menjadi ibu yang baik di mata anak anak, istri yang baik di mata suami, dan mahkluk yang baik di mata Allah dan penduduk langit. InsyaAllah kita bisa layak menjadi ibu yang dirindukan surga.  



Mulai sekarang, yuk fokus lagi pada diri kita sendiri, kembangkan dan berdayakan diri, bahagiakan diri kita sendiri sambil tetap melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Tak peduli kata orang di sekitar yang menyakiti, selalu berdoa semoga Tuhan senantiasa melembutkan hati kita semua, biarkan orang lain berkata semaunya, dan biarkan diri kita berkembang melesat melebihi orang orang yang menyakiti kita. Bismillah mari menjadi ibu yang selalu berproses menjadi lebih baik setiap harinya dengan pertolongan-Nya, karena-Nya dan untuk-Nya. Mudah-mudahan Tuhan selalu membimbing kita.

 

 


 

By Butiq

Post a Comment

0 Comments